Ribuan Warga Korban Tsunami Aceh Lebaran di Barak

Harian Global
Rabu, 17 Oktober 2007


Sekitar 3.000 kepala keluarga (KK) atau sekitar 9.400 jiwa korban tsunami Desember 2004 di Provinsi Aceh berlebaran Idul Fitri di barak-barak pengungsian. Soalnya, mereka belum mendapat rumah dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.

Manajer Operasi Aceh Recovery Forum (ARF) Jeliteng Pribadi di Banda Aceh mengatakan, keterlambatan BRR membangun rumah, mengakibatkan ribuan warga korban tsunami terpaksa berlebaran di barak-barak yang kondisinya cukup memprihatinkan.

Dikatakannya, seharusnya pihak BRR ikut bertanggung jawab terhadap nasib korban tsunami yang masih tinggal di barak, karena atas keteledoran lembaga tersebut, sebagian warga terpaksa berlebaran di lokasi yang tidak layak.

“Saya pikir sudah tidak layak lagi warga harus berlebaran di barak. Saya harap ini Lebaran yang terakhir bagi mereka,” ujarnya.

Dikatakannya, BRR pernah berjanji pembangunan perumahan bagi korban tsunami selesai akhir tahun 2006, namun sampai saat ini belum juga terealisasi.

Berdasarkan catatan ARF, progress pembangunan rumah sampai Januari 2007 hanya 39 persen dari total kebutuhan 129 ribu unit.

Kemajuan terbesar dicapai di Kabupaten Aceh Besar, yakni 67 persen, kedua di Banda Aceh 55 persen dan ketiga di Pidie 47 persen.

Sebaliknya, daerah-daerah terpencil yang termasuk dalam kategori paling parah terkena tsunami dan gempa seperti Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Semeulue dan Kabupaten Aceh Jaya

memiliki kemajuan yang sangat lamban, masing-masing satu persen, 13 persen dan 26 persen.

Kemudian pada Juli 2007, BRR mengumumkan bahwa total kebutuhan rumah meningkat menjadi

161.522 unit. Sehingga secara total, pembangunan perumahan di 16 kabupaten/kota yang terimbas gempa dan tsunami hingga saat ini menjadi hanya 39 persen, dengan total penyelesaian 63.000 unit.

Secara rata-rata, pertumbuhan pembangunan rumah dalam tiga tahun terakhir hanya 10 persen tiap tahunnya. Perkembangan signifikan terjadi tahun 2006, di mana total pembangunan rumah meningkat menjadi 57.000-an dari 16.000-an tahun 2005.

Sementara itu, tahun 2007 mengalami kelambanan, sehingga sampai Juli 2007, total pembangunan rumah hanya sebesar 63.000 unit, sementara pungungsi yang masih berada di tenda dan barak yang tersebar di beberapa daerah, per September tercatat 3.000 KK atau sebanyak 9.400 jiwa.

Jeliteng menyatakan, berbagai alasan telah dikemukakan BRR menyangkut kelambanan progress pembangunan rumah tersebut. Masalah yang paling mengemuka adalah tanah yang tidak tersedia, sulitnya transportasi bahan baku, melonjaknya harga bahan material, ulah para kontraktor nakal, praktik mensubkontrakkan proyek, kondisi cuaca dan krisis bahan material, serta data perumahan yang tidak komplet.

Sementara, Juru Bicara BRR Mirza Keumala mengakui, masih ada ribuan warga korban tsunami yang masih tinggal di barak. Pada Oktober 2007 menargetkan bisa menyelesaikan 100 ribu unit dan pada Maret 2008 seluruh pembangunan rumah untuk korban tsunami sudah selesai.

Tinggalkan Pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: