‘Hubungan Saya Dengan Swedia Susah’


Sedikit warga mengenal nama Teungku Agam atau Abu Isnandar. Namun, cobalah menyebut nama Irwandi Yusuf. Tak cuma masyarakat di Aceh, Presi­den Susilo Bambang Yudho­yono (SBY) pun mafhum kalau pemilik nama ini adalah peraih suara terba­nyak dalam pemilihan gubernur Aceh 11 Desember lalu. “Teungku Agam” alias “Abu Isnandar” merupakan nama samaran Irwandi pada setiap surat elektronik yang ia kirimkan ke berbagai media cetak kala berperan sebagai Deputi Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Karena perannya itu, dosen pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, ini dituntut 14 tahun penjara. Ia dicokok karena dite­ngarai menjadi konseptor dan translator GAM.

Tapi, itu semua kisah masa lalu. Kini, setelah mejadi orang nomor satu di provinsi ujung barat Sumatera, bagaimana Irwandi melihat masa depan perdamaian dan pembangunan di Aceh? Benarkah hubungannya dengan GAM generasi tua sedang bermasalah? Desember lalu, bertempat di Markas Komite Peralihan Aceh (KPA)-sayap mantan militer GAM-alumnus Oregon State University Amerika Serikat yang kerap mengunakan kata ‘aku’ kala menyebut dirinya, ini bertutur banyak kepada Idrus Saputra dan Murizal Hamzah dari Aceh Magazine. Simak petikan wawacaranya berikut ini.

Komite Independen Pemilihan (KIP) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menetapkan Anda sebagai pemenang dalam Pilkada gubernur Aceh. Anda terkejut dengan hasil ini? Atau sejak awal Anda memang sudah yakin bakal menang?
Sejak awal saya sudah yakin dengan kemenangan ini. Berdasarkan survei perhitungan cepat, saya unggul. Seandainya tidak ada pelarian kotak suara seperti di Aceh Tamiang, (juga) manipulasi suara, suara saya bisa meningkat. Saya yakin sebelum pencoblosan, Pilkada ini hanya satu putaran. Ini semua berkat dukungan masyarakat yang menghendaki perubahan keadaan. Kita berupaya mengadakan perubahan atau paling kurang membuat fundamen perubahan.

Bagaimana Anda akan mewujudkan pemerintahan di Aceh nantinya?
Saya membuat pemerintah yang bersih lebih ke dalam. Membuat kegiatan yang bersifat pelayanan masyarakat, serta perang melawan korupsi. Korupsi ini gampang diberantas, namun selama ini tidak ada political will karena sama-sama bermain. Kalau sekarang sibuk-sibuk dengan qanun (Perda-red) potong tangan, maka ke depan akan ada qanun potong leher.

Termasuk akan ada mutasi dan perubahan besar-besaran?
Tidak ada perubahan pada bulan-bulan pertama. Kita mengamati dulu. Kita tidak merombak, namun membenarkan perencanaan. Ada orang yang tak cocok di suatu tempat, mungkin dia cocok di tempat lain.

Apakah ini menjadi progam 100 hari Anda menjadi gubernur?
Bukan. Tidak cukup 100 hari. Mungkin perlu setahun atau dua tahun. Jangan terpaku pada 100 hari. Kalau aku bisa, kerjakan 30 hari. Kalau tak bisa 30 hari, mungkin butuh 200 hari. Aku tak tahu siapa yang taruh istilah 100 hari. Aku tak setuju. Menyangkut program, ini menyangkut dana. Ketika aku dilantik pada Februari 2007, budget 2006 sudah selesai tapi budget 2007 belum cair.

Anda berangkat dari jalur independen dan tidak diusung oleh partai politik. Anda tak khawatir pemerintahan Anda nantinya menimbulkan resistensi di parlemen?

Aku yakin, teman-teman aku yang duduk di DPRD yang naik melalui jalur partai politik sama tujuannya dengan Irwandi ini; untuk kemakmuran Aceh ke depan. Kawan-kawan di DPR pasti mendukung. Ini untuk kepentingan rakyat Aceh. Bukan untuk kepentingan Irwandi dan Nazar (Muhamad Nazar, wakil gubernur terpilih pasangan Irwandi Yusuf-red). Entahlah kalau saya mengubah pikiran jadi gila atau lupa janji untuk kepentingan diri sendiri, maka hak DPR untuk menghadang saya.

Dalam soal politik, Pemerintah Pusat kelihatannya masih sering curiga pada Aceh. Termasuk beberapa komentar pejabat dan politisi Jakarta dalam menanggapi kemenangan Anda ini. Komentar Anda?

Kita harus mengubah itu. Aceh sesuatu yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Banyak orang memprediksi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Aceh berlangsung rusuh. Tapi apa yang terjadi, apakah ada rusuh? Padahal, jelas-jelas pihak GAM yang dirugikan karena banyak pendukung saya yang tak bisa memilih akibat tidak didaftarkan.

Pilkada Aceh bisa menjadi pendidikan politik bagi republik. Kalau melihat contoh Pilkada, jangan pergi ke Jawa, lihatlah ke Aceh. Aku menang tak sorak-sorak atau berjingkrak-jingkrak. Apakah saya ada pesta atau apakah ada anak buah saya lempar topi ke atas. Saya mohon yang kalah juga menerima kekalahan.

Pemerintah Pusat tentu saja boleh khawatir dengan kemenangan Anda, sebab bukankah Anda dulu memberontak?
Benar saya dulu memberontak untuk menurunkan sesuatu. Sekarang sudah terjadi dan kita berhenti memberontak. Semangat kami penerobos. Rakyat Aceh butuh orang-orang yang berani terobos. Bukan penerobos ilegal.

GAM tak punya kepentingan partai politik karena kami naik dari jalur indepeden. Maka aku tak pakai partai sebab tak bisa terobos. Aceh butuh pemimpin yang berani terobos, apalagi sekarang sudah ada Undang-undang Pemerintah Aceh yang penuh dengan terobosan-terobosan.

Bagaimana soal kekhawatiran pengamat, politisi, dan pejabat Pemerintahan di Jakarta bahwa kepemimpinan Anda dapat membawa Aceh merdeka dan terlepas dari Republik Indonesia (RI)?
Ketika kita bicara MoU, mengapa masih ada orang bicara di luar MoU? Aku tak mau tanggapi. Itu di luar MoU. Apakah ada kata merdeka dalam MoU? Kan tidak ada. Itu hanya paranoid-paranoid yang harus dihilangkan di Jakarta. Jakarta mesti terdidik dengan hal-hal baru di Indonesia.

Ini agak sedikit manusiawi. Anda pernah menjadi buronan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda dan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh. Ke de-pan akankah ada desiran perasaan tertentu ketika nanti memanggil Pangdam atau Kapolda ke pendopo saat Anda telah menjadi gubernur?
Tidak ada perasaan apapun. Termasuk dengan yang pernah menganiaya aku dulu, sekarang sudah menjadi kawan akrab. Dengan Pangdam Iskandar Muda Supiadin, aku kawan. Dengan Kapolda Aceh Bachrumsyah, aku sering tukar pikiran. Mereka sudah mengirim ucapan selamat kepadaku. Tapi bukan secara resmi.

Banyak yang berkomentar kemenangan Anda lebih karena foto-foto Anda yang mengenakan pakaian adat Aceh dalam atribut-atribut kampanye maupun kertas pencoblosan. Menurut Anda, apakah pakaian adat yang Anda pakai itu memang mempengaruhi pemilih?
Ya, benar. Kami sengaja tampil beda dengan kandidat lain. Sejak deklarasi, baju kebesaran orang Aceh dengan kopiah meuketop sudah kami kenakan. Ini atas saran ulama karena rencana awal kami tidak mengenakan penutup kepala; apalagi kopiah. Alasannya, karena masyarakat tahu kiprah orang-orang pakai kopiah seperti Soekarno; banyak istri dan menipu rakyat Aceh. Soeharto juga pakai kokopiah, tapi apa yang dilakukannya selama 30 tahun di Aceh? Abdullah Puteh, mantan gubernur Aceh, juga pakai piah; tapi koruptor. Karena kami menghormati ulama, kopiah meuketop kami pilih sebagai penutup kepala. Ini untuk memudahkan pemilih dalam memilih.

Masih soal foto. Apakah nanti Anda akan menempatkan foto Hasan Tiro di lingkungan pendopo?
Lihat dulu konteksnya. Kan tidak ada larangan memasang foto tersebut. Karl Marx saja bisa dipasang. Bahkan, bendera Aceh akan ada tahun 2009. Ini tergantung kesepakatan kita; bendera mana yang akan dipakai. Saat ini kita tidak menaikkan bendera GAM karena intepretasi masyarakat berbeda-beda. Apakah dengan naiknya bendera GAM lantas bisa membuat masyarakat senang dan makmur? Kalau masalah partai politik lokal Aceh, ini sesuai dengan MoU Helsinki.

Pascakemenangan Anda, banyak pejabat dan politisi meminta agar GAM dibubarkan. Menurut Anda, siapa sih yang bisa membubarkan GAM?
Ya GAM sendiri. Di MoU tak ada perintah untuk membubarkan GAM. Yang ada, atribut militer GAM dan militernya dibubarkan. Kalau pin yang saya pakai dikatakan atribut militer, itu salah. Pin ini histori kami.

Kabarnya ada keretakan psikologis antara Anda dan kalangan GAM generasi tua. Apa benar?
Itu beda pendapat dan itu biasa. Dengan bapak saya, saya ada beda pendapat. Beda pendapat bukan berarti saya marah-marah. Kan biasa dalam demokrasi beda pendapat. Dengan anak saya saja ada beda pendapat, apalagi dengan orang lain. Saat menang dalam quick count, mereka kirim ucapan selamat kepada saya.

Konkritnya bagaimana? Ada ucapan selamat secara khusus?
Hubungan saya dengan Swedia susah. Apalagi ketika muncul berita menang, handphone ini tak berhenti-berdering. Saya tak mampu menjawab. Panas kuping ini. Karena itu, sering saya matikan daripada ada nada sambung namun tidak saya angkat.

Dalam visi misi, Anda meyebutkan akan memperjuangkan kembali Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) agar sesuai aspirasi rakyat Aceh…
Ya. Saya segera membuat tim lobby di DPRD. Namun, kita juga masih menghormati UU Nomor 11 tahun 2006 sambil menunggu waktu amandemen dikeluarkan oleh Pemerintah
Pusat kita jalankan dulu apakah nantinya sesuai dengan yang kita inginkan.

Tinggalkan Pesan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: